Rabu, 13 November 2013

Mahaguru yang Bijak Itu Bernama H.O.S. Cokroaminoto

Oleh: Qiki Qilang Syachbudy



Cokro sebagai organisatoris, ideolog, dan Islamis
H.O.S. Cokroaminoto yang selanjutnya dipanggil Cokro merupakan seorang keturunan priyayi yang bisa dibilang sebagai golongan priyayi yang tercerahkan. Nenek Cokro adalah seorang bupati dan konon memiliki juga ilmu kebatinan.
        Pada awal karirnya Cokro adalah seorang pegawai negeri, tetapi kemudian ia memutuskan untuk keluar sebagai pegawai negeri dan memilih berprofesi sebagai pedagang.
      Pemikiran besar yang harus mendapat sorotan lebih besar ddari seorang Cokro adalah mengenai konsepnya tentang demokrasi dan sosialisme yang dikaitkan dengan Islam.
       Cokro menjadi ketua SI yang didirikan oleh Samanhudi pada tahun 1911. Dalam kapasitasnya sebagai ketua SI maka Cokro terus berfikir untuk kemajuan bangsanya. Buah fikirannya tentang konsep demokrasi sangat tampak jelas pada tahun 1916 ketika menanggapi UU desentralisasi yang dibuat Belanda pada tahun 1903. Pada kongres SI tahun 1916 itu Cokro menuntut kepada Belanda agar memberikan kepada pribumi kebebasan untuk mengatur dirinya sendiri. Selanjutnya Cokro menjelaskan bahwa jika pribumi diberi kesempatan untuk mengatur dirinya sendiri maka Indonesia akan menggunakan demokrasi yang menurutnya merupakan sistem yang dekat dengan pandangan Islam.
        Pada tahun 1912 Cokro harus dihadapkan kepada ideologi sosialis-komunis yang awalnya dibawa oleh Semaun. Untuk menjawab ideologi komunis yang sudah mulai berkembang pada tubuh SI sejak tahun 1920 maka Cokro pada tahun 1924 menulis sebuah buku yang berjudul Islam dan sosialisme dengan tujuan untuk menunjukkan kepada kaum sosialis komunis bahwa di dalam Islam juga ada sosialisme, karena menurut Cikro nabi Muammad saw juga adalah seorang yang sosialistis.
       Pemikiran komunis terus menjamur dan berkembang di tubuh SI, sehingga kemudia pada tahun 1923 ketika sedang diadakan kongres SI di Yogya maka atas usulan Agus Salim PSI memilih jalan tegas untuk menentukan ideologinya secara lurus, apakah Islam atau Komunis. Dari semenjak itulah maka terbentuklah dua kubu yang disebut dengan PSI merah dan PSI murni.
          Pada saat terbelah duanya PSI, yaitu antara PSI merah dan PSI putih maka Cokro mengambil sikap untuk bergabung dengan PSI murni. Karena meskipun Cokro telah menulis Islam dan Sosialisme, tetapi dalam kenyataannya kedua pandangan besar itu tidak bisa berdampingan dalam proses perjuangan. Hal ini disebabkan karena sikap prinsip dari kaum sosialis yang memiliki hipotesis bahwa kekuasaan harus direbut dan tidak mengenal sikap kompromi.
        Bagi sebagian orang melihat Cokro sebagai seorang cendikiawan Islam. Hal ini mungkin karena memang Cokro memiliki pandangan yang berorientasi jauh ke depan tentang sistem kenegaraan yang berlandaskan akan nilai-nilai Islam. Salah satu pemikiran yang sangat menonjol dari seorang Cokro adalah kecenderungan keinginannya dalam menata republik ini dengan sistem perwakilan yang dipilih yang mirip dengan trias politika. Yang lebih menarik dari pemikirannya ini adalah bahwa Cokro akan memformulasikan nilai-nilai Islam terutama dalam hal kepemimpinan dan hak rakyatnya. Sehingga boleh kita bilang bahwa pemikiran Cokro adalah awal dari kemajuan pemikian Islam yang kemudian mempengaruhi gaya berfikirnya Soekarno dan akhirnya menular sampai zaman kontemporer, seperti kita sekarang kenal pemikiran dari Nurcholish Madjid.

Cokro sebagai guru yang demokratis
         Cerita ini mungkin bisa kita mulai dari rumah Cokro di Surabaya, yang sekarang dikenal dengan rumah dialog.
         Sebagai seorang petinggi dari organisasi yang memiliki massa terbesar pada waktu itu maka pemikiran Cokro ini menyebar ke berbagai kalangan. Banyak diantaranya anak-anak muda yang progressive terpesona dengan pidato-pidatonya Cokro. Sikap Cokro yang progressive dan terbuka terhadap berbagaimacam ideologi membuat rumah Cokro ini menjadi tempat untuk bertemunya berbagaimacam faham untuk saling berdialog tanpa ada kekhawatiran akan terjadinya konflik yang berkepanjangan.
       Banyak diantaranya tokoh-tokoh yang dikemudian hari menjadi besar namanya berasal dari rumah Cokro ini. Sebut saja diataranya Tan Malaka, Alimin, Kartoswirjo, Bung Karno, dll.
        Hal yang mungkin kita patut untuk acungi jempol adalah sikap Cokro yang samasekali tidak pernah memaksakan keyakinannya, yaitu ideologi keislaman untuk diturut oleh para murid-muridnya itu. Dia adalah seorang guru yang sangat bijaksana yang membiarkan para anak didiknya untuk berkiprah dibergai bidang yang mereka senangi dan sesuai dengan naluri mereka masing-masing sebagai sebuah titah Tuhan yang telah diberikanNya.
          Kebasaran hatinya dan keluasan fikirannya telah membawa sebuah garis lurus dalam seluruh sejarah bangsa Indonesia. Meskipun pada akhirnya sejarah tidak banyak menuliskan namanya, tetapi penulis yakin bahwa tinta untuk Cokro tidak harus semuanya ditumpahkan ke atas kertas, tetapi tinta untuk Cokro sudah sangat mulia untuk melukis fikiran dan nuraninya para pemikir besar pada zaman setelahnya, mungkin sampai waktu yang tidak ditentukan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar